Help you to be empowered with self-acceptance through life reflection

Nyalahin Orang Itu Gampang… Tapi Yakin Nih, Mau Jadi Kayak Iblis?

Ketika ada hal yang nggak berjalan sesuai rencana, lantas refleks pertama kita langsung cari “kambing hitam”..
“Gara-gara dia nih…”
“Coba tadi dia nggak kayak gitu… pasti sekarang ga begini jadinya.”

Jujur aja, siapa yang nggak pernah ngalamin itu? Kita semua mungkin pernah dan bahkan, sering. Entah itu dalam urusan kerja, hubungan, keluarga, bahkan dalam urusan kecil sehari-hari.

Karena emang, nyalahin orang lain itu gampang. Gak perlu effort buat mikir, gak perlu repot ngaca. Sayangnya, ternyata sikap itu tidak sekadar soal mentalitas buruk, sikap itu mencerminkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang… gelap.

Sikap Iblis: Nyalahin, Bukan Ngaku Salah

Dalam Al-Qur’an, ketika Iblis dikutuk karena menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam, apa yang dia lakukan? Dia nyalahin Allah.

“Ia (Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (QS. Al-A’raf: 16)

Wait, seriously? Dia yang jelas-jelas ngeyel, tapi malah nyalahin Tuhan?

Kebangetan banget ya? Tapi coba deh jujur: bukankah kadang kita juga melakukan hal yang sama, dalam versi lebih halus?

  • Gagal wawancara kerja → “Gara-gara pewawancaranya gak fair.”
  • Hubungan renggang → “Ya dia yang berubah duluan.”
  • Masalah finansial → “Ekonomi lagi jelek, wajar dong…”

Tanpa sadar, kita lari dari tanggung jawab, dan merasa nyaman jadi “korban keadaan”.

Bedanya dengan Orang yang Hidup di Atas Garis: Sadar & Regulasi

Yang bikin beda itu bukan soal nggak pernah nyalahin. Tapi seberapa cepat kita sadar saat kita mulai menunjuk keluar dan lupa nunjuk ke diri sendiri.

Dan pas udah sadar?
Belajar regulasi diri. Stop blaming, start reflecting.

Apa yang bisa aku pelajari dari kejadian ini?
Bagian mana yang jadi tanggung jawabku?
Apa yang bisa aku ubah mulai sekarang?

Respons kayak gitu jauh lebih berdaya. Lebih manusiawi. Dan pastinya… bukan cara pikir iblis.

Real Talk: Nggak Gampang. Tapi Layak Dicoba.

Kita hidup di zaman serba cepat dan serba trigger-happy. Nyalahin orang lain atau situasi itu kayak coping mechanism yang instan. Tapi kalau kita pengen tumbuh, tidak sekadar aging, melainkan genuinely growing, kita perlu stop jadi “korban”.

Mau kita lagi di posisi sulit, kecewa, atau marah, selalu upayakan ada ruang buat bertanya:
“Kalau bukan nyalahin, aku bisa ngapain sekarang?”

Let’s Not Be Like Iblis. Period.

Kita bukan makhluk yang nggak bisa salah. Tapi kita punya pilihan buat gak larut dalam kesalahan. Kita bisa milih buat bertanggung jawab, belajar, dan bangkit.

So, next time kita pengen nunjuk keluar, inget:
Satu jari nunjuk orang lain, tiga jari lain balik nunjuk ke diri kita sendiri.

Let’s grow. Let’s reflect.
Tanpa drama menyalahkan. Tanpa jadi pengikut iblis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *