Help you to be empowered with self-acceptance through life reflection

Be Leader, Kesempatan Memperbaiki Diri

Belakangan saya menyadari bahwa menjadi leader, bukanlah soal kesempatan untuk memimpin sebuah tim hingga menuju ke puncak tertingginya. Tapi lebih dalam dari itu, menjadi leader artinya memiliki kesempatan untuk bisa memperbaiki diri.

Sangat terkesan ketika membaca biografi Buya Hamka, sebagai ulama, pemimpin ummat, Buya Hamka juga memiliki konflik-konflik internal dalam dirinya. Harga diri, martabat kerap menjadi bagian dalam kehidupannya. Satu masa harga diri perlu dimenangkan, namun pada masa yang lain, martabat hanyalah bagian dari ego manusia yang perlu ditepiskan sebelum meruyak hati.

Sepenuhnya berpegang pada petunjuk yang benar: Alquran. Jalan inilah yang Buya Hamka pegang untuk kemudian bisa mengambil keputusan dan bertanggungjawab sepenuhnya. Apakah Buya tak pernah salah? Oh tentu tidak. Ada kesalahan-kesalahan, bahkan bisa dianggap fatal yang dilakukan. Tapi Buya menerima konsekuensinya dengan ketabahan dan kesabaran orang yang berilmu.

Leader akan ditempa dengan beragam permasalahan yang impactnya pun beragam. Setiap keputusan yang diambil, akan selalu ada pro dan kontra. Aksi ‘memilih’ jadi makanan sehari-hari. Pertentangan perlu dihadapi, bukan hal mesti ditakuti. Pertentangan mengajarkan leader untuk mampu melihat sudut pandang yang berbeda, POV yang berbeda. Jika mampu melihat dari banyak sudut pandang, leader akan belajar menjadi lebih bijak pada keputusan-keputusan berikutnya.

Yang menarik adalah bahwa persetujuan bukanlah sebuah kemenangan. Persetujuan adalah momen terbukanya gerbang aksi atau tindakan. Tanpa aksi, leader akan seperti harimau ompong. Aksi leader lah yang akan menentukan kadar integritasnya dan yang kemudian akan mempengaruhi kekuatan ‘engagement’ terhadap timnya.

Saya pernah menjumpai leader yang sangat kuat sekali menyampaikan opininya, dan memang logis untuk dijalankan, tapi pada tataran eksekusi, dia ‘keteteran’. Dia tidak melaksanakan apa yang ia sampaikan. Dia berkhianat pada dirinya sendirinya. Dan hal-hal seperti ini akan langsung bisa tercermin pada integritasnya. Maka yang terjadi berikutnya adalah dia dianggap leader hanya karena amanah jabatan, bukan karena cerminan perilaku dan akhlaknya.

Ah, bicara akhlak, tentu ini jadi hal yang juga paling menentukan proses perjalanan seorang leader ketika memimpin timnya. Teringat biografi Buya Hamka, yang memilih dan kemudian menerapkan dengan kesungguhan hati pedoman hidupnya adalah Alquran, maka sebaik-baik akhlak adalah berkiblat pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Akhlak leader akan dirasakan langsung oleh timnya. Bagaimana dia memperlakukan orang lain. Bagaimana cara dia berbicara dengan orang lain. Bagaimana pikiran dia tentang orang lain. Orang akan mendekat atau menjauh berdasarkan ‘rasa’ atas akhlaknya. Barangkali keputusan yang dia ambil tidaklah populer, dan bahkan menuai kritik. Namun orang tetap akan mengikutinya, karena mengerti, bahwa kesungguhannya tercermin pada akhlaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *