Beli buku ini pas IBF tahun berapa ya waktu itu.. 2022? 2023? Sampai lupa.
Baru buka segel kemaren dan mulai baca. Novel pertama belum tuntas baca, baru sampai di halaman 154. Kecepatan baca sudah ga secepat dulu yaa.. sekarang jadi lebih lambat, banyak mem-visualisasikan dalam benak setiap kalimat yang terbaca.
Kalau sebelumnya, baca karya Buya HAMKA, dan selalu ada insight yang didapat yang bikin self keplak ke diri sendiri, sekarang beruntung banget bisa baca karya orang lain (Akmal NB) tentang kehidupan buya HAMKA.
Ga ada daun jatuh tanpa ijin-Nya. Pun ketika hati saya tergerak buat memilih baca buku ini. Ternyata di dalamnya, banyak sekali hal-hal tentang kehidupan yang saya baru pahami, dan seolah saya menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan refleksi yang belakangan ini terus mendesak dalam setiap ruang pikiran.
“Kalau selalu memikirkan kata orang, hidup kita akan selalu terlihat salah, Raham,” Malik menjawil pipi istrinya.
Sepenggal dialog Buya Hamka dengan istrinya ini misalnya, membuat saya mengenang masa, ketika dengan konyolnya saya berhenti menulis apa yang ada dalam pikiran saya bahkan sampai berbilang tahun, hanya karena seorang kawan baik berkata, “tulisan indah bahasa bersayap yang b*llshi*.”
Tentu saja, jeda menulis membuat saya tergagap-gagap lagi untuk memulai. Butuh proses yang tidak sebentar untuk mengumpulkan kembali rasa antusiasme sekaligus rasa percaya bahwa setiap tulisan akan menemukan pembacanya masing-masing.
Penggalan-penggalan dialog lain yang nampaknya ringan saja dibaca, ternyata benang merah insightnya bisa terhubung pada kegelisahan hati beberapa hari ini. Sungguh, begitu tak terduga cara Allah menyentuh hati hamba-Nya.
Waktu yang tersia-sia, semestinya tak perlu ada, dan dengan ini perlu kuat komitmen untuk tak lagi ada yang tersia-sia.
Perlu kesungguhan upaya untuk menjaga pikiran agar terus saja berprasangka baik. Jikalau ada hembusan-hembusan yang tidak nyaman terdengar, segera alihkan. Tak bisa mengalihkan? Setidaknya jangan ikut-ikutan jadi penghembus. Fokus saja untuk menebarkan manfaat. Berpikir dalam konteks yang lebih besar.
MasyaAllah. Sungguh dahsyat sekali kekuatan tulisan.

Tinggalkan Balasan