Help you to be empowered with self-acceptance through life reflection

Memanggil Pegiat Literasi 📣

Baca buku itu tidak hanya mengajarkan tentang apa isi buku. Proses membaca mengajarkan tentang:

✔️ Kesabaran: tiap abjad yang perlu dibaca sesuai konteksnya, melatih kesabaran untuk mencerna. Pembaca belajar tentang mengalami. Jalan panjang menuju memahami sesuatu hal. Tak ada jalan pintas. Tak ada jalur instan untuk pemahaman atas ilmu.

✔️ Ketelitian: proses membaca menuntut ketelitian agar tak salah persepsi. Perbedaan satu abjad bisa mempengaruhi makna, yang membuat konteks terkait bisa jauh berbeda.

✔️ Fokus: tanpa adanya notifikasi dan juga layar pop up pada buku-buku, akan membuat Pembaca jadi bisa fokus pada buku yang dibacanya. Membaca berulang berarti melatih tingginya rentang fokus seseorang pada sesuatu.

✔️ Kebijaksanaan: membaca buku-buku akan membuat ilmu itu tersimpan pada memory otak, dan menjadi sumber dari pengetahuan seseorang. Seperti halnya ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.

✔️ Dan seterusnya. Ada yang mau menambahkan?

Well, kita akan mendapati impact dari baca buku seperti di atas, jika dan hanya jika, kita membaca BUKU-BUKU YANG TEPAT.

Saat ini ada 282 juta jiwa penduduk di Indonesia, yang salah satu (calon) pemimpinnya TIDAK SUKA BACA BUKU, dan suka MAIN PS (tengok disini: https://www.facebook.com/reel/3851947145060063)
Maka kita tahu, bagaimana nantinya budaya instan, budaya jalan pintas, yang sudah menggeroti anak bangsa, akan makin menggerus kebijaksanaan anak-anak negeri ini.

Maka ga usah heran, jika ternyata demi punya HP, seorang anak bisa memukuli ibunya. Atau demi punya sekadar baju yang up to date, seorang gadis baru baligh menjual diri. Atau demi menikmati s*ks lebih awal dari aturan yang ada, kawanan bocah yang bahkan masih terbata-bata menghafalkan perkalian 5 dalam pelajaran matematika, mampu menggauli dan membu**h balita.

Budaya instan menuntut terselesaikannya keinginan dengan cepat, tanpa peduli akibat.

Mari cukupkan sampai disini. Wahai Pegiat Literasi, mari kita bersatu padu, gencarkan terus, terus, dan terus tentang BACA BUKU-BUKU YANG TEPAT. Buku yang tepat, adalah buku-buku yang mengajak pembacanya untuk semakin mendekat, semakin mengenal Penciptanya.

Para penulis, teruslah menulis, warnai isi kepala anak-anak negeri ini dengan beragam kebaikan-kebaikan yang mendorong ketaatan pada-Nya.

Para penerbit, teruslah mencetak buku-buku yang akan menjadi media (tools) bagi anak-anak negeri ini untuk mengupgrade diri bukan dengan jalan pintas.

Para penjual buku, teruslah menjual buku, teruslah mengedukasi tentang buku-buku, jadi jembatan yang mengantarkan buku-buku bergizi pada anak-anak negeri.

Dan tentunya teman-teman relawan di rumah baca, di perpustakaan, di manapun berada, teruslah bergerak masif, menjangkau anak-anak negeri dengan literasi.

Siapa lagi yang akan menyelamatkan anak-anak negeri ini jika bukan kita?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *