Help you to be empowered with self-acceptance through life reflection

Kehilangan Momentum, atau Kehilangan Rasa Berarti?

Beberapa waktu lalu saya membuka kembali catatan lama. Tahun-tahun ketika saya merasa hidup ini seperti sedang berlari kencang.

Rencana banyak.
Ide bertebaran.
Energi seperti tidak pernah habis.

Waktu itu rasanya jelas sekali: aku sedang bertumbuh. Saya terbang, mengepakkan sayap, dan menatap dunia dengan sepenuh pengharapan.

Rasanya aneh, dulu sibuk sekali, tapi tidak merasa lelah. Sekarang ritmenya lebih tenang, tapi justru sering merasa seperti… kehilangan sesuatu.

Bukan kehilangan arah. Juga bukan kehilangan tujuan. Lebih tepat seperti kehilangan momentum.

Dan saya butuh waktu cukup lama untuk menyadari bahwa yang hilang bukan kecepatannya. Yang hilang adalah rasa “berarti”.


Kita jarang mengakuinya, tapi banyak energi kita lahir dari rasa dibutuhkan.

Merasa didengar.
Merasa dicari.
Merasa kontribusi kita nyata.

Rasa itu seperti bensin.
Begitu ada yang mengisi, kita bisa bergerak jauh tanpa terasa berat.

Masalahnya, rasa berarti itu sangat bergantung pada respons orang lain tidak pernah stabil. Kalau responnya ramai, kita menyala. Kalau sepi, kita meredup.

Sedangkan hidup tidak selalu menyediakan tepuk tangan.


Di titik ini saya mulai bertanya:
Apakah selama ini saya bertumbuh karena ingin menjadi lebih baik… atau karena ingin merasa berarti?

Pertanyaan itu tidak nyaman. Karena kalau jawabannya yang kedua, berarti selama ini sebagian energi saya bergantung pada validasi.

Dan validasi itu seperti gula. Memberi tenaga cepat. Tapi tidak menguatkan tubuh dalam jangka panjang.


Di sinilah saya jadi belajar membedakan dua jenis pertumbuhan.

Pertumbuhan yang didorong pembuktian.
Dan pertumbuhan yang lahir dari kesadaran.

Yang pertama cepat. Yang kedua pelan.

Yang pertama berisik. Yang kedua sunyi.

Yang pertama membuat kita merasa hidup. Yang kedua membuat kita benar-benar matang.

Dan fase peralihan dari yang pertama ke yang kedua terasa seperti kehilangan momentum. Padahal fase ini perlu dilewati. Inilah fase kita sedang mengganti mesin.


Dalam psikologi perkembangan, ada fase ketika seseorang berhenti mengejar pengakuan eksternal dan mulai membangun identitas internal. Ini pergeseran sumber energi.

Mulanya kita bertanya: “Apa yang orang lihat dari saya?”

Sekarang kita mulai bertanya: “Apakah saya setia pada nilai saya?”

Perubahan pertanyaan ini membuat ritme hidup melambat. Karena kita tidak lagi bereaksi cepat terhadap sorotan luar.

Dan melambat sering disalahartikan sebagai tertinggal.


Saya juga teringat satu fase dalam sejarah dakwah Nabi.

Tiga belas tahun di Makkah.

Secara angka, pengikutnya tidak banyak.
Secara strategi, tidak spektakuler.
Secara hasil, terlihat lambat.

Tapi justru di fase itulah fondasi dibangun.

Iman yang tidak bergantung pada kekuasaan.
Karakter yang tidak bergantung pada situasi.

Kalau Makkah gagal, Madinah tidak akan kokoh.

Dan mungkin dalam hidup kita pun begitu.

Ada fase membangun panggung.
Ada fase membangun akar.

Akar selalu sunyi. Tapi tanpa akar, pohon tumbang di angin pertama.


Maka kehilangan momentum bukan penanda kita melemah. Ia bisa jadi tanda kita sedang naik level, dari ingin terlihat berarti, menjadi ingin sungguh-sungguh bernilai.

Bedanya tipis, tapi dampaknya besar.

Kalau kita mengejar rasa berarti, kita mudah goyah.
Kalau kita membangun nilai, kita mungkin pelan tapi stabil.


Lalu apa yang bisa dilakukan ketika energi terasa tidak sebesar dulu?

Beberapa hal yang saya pelajari:

  1. Berhenti mengukur diri dengan kecepatan lama.
    Versi kita yang dulu hidup dalam konteks yang berbeda. Tanggung jawab berbeda. Kesadaran berbeda.
  2. Periksa ulang sumber energi.
    Apakah kita lelah… atau hanya tidak lagi mendapat validasi yang sama?
  3. Bangun sistem kecil yang konsisten.
    Mengupayakan kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus berjalan.
  4. Ganti pertanyaan harian.
    Bukan “Seberapa jauh aku melaju?”
    Tapi “Apakah aku bertumbuh satu langkah hari ini?”

Saya masih ingin bertumbuh.

Bukan untuk terlihat.Bukan untuk membuktikan. Tapi karena diam terlalu lama membuat jiwa beku.

Mungkin saya memang tidak secepat dulu.
Dan mungkin juga saya sedang belajar menjadi lebih kokoh.

Dan kokoh tidak pernah dibangun dengan tergesa-gesa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *