Help you to be empowered with self-acceptance through life reflection

Kenapa Banyak Orang Baik Tapi Interaksinya Menyakitkan? Ini Jawaban dari Siroh

Di era ghosting jadi kebiasaan, dan unfollow jadi solusi konflik, kita butuh lebih dari sekadar self-reminder. Kita butuh kompas. Dan siroh adalah kompas itu.

Ayo kita jujur. Kita hidup di era yang semua hal serba cepat. Respons cepat. Chat cepat. Putus hubungan juga… cepat.

Semua kecepatan itu, sayangnya memicu hal-hal lain untuk ikut cepat:

  • Toxic behavior
  • Perasaan hampa setelah interaksi
  • Dan hubungan yang putus nyambung tanpa kejelasan

Kitapun jadi terbiasa dengan, ghosting tanpa penjelasan, komentar pedas di medsos atas nama “jujur”, hubungan yang kandas cuma karena “udah gak sefrekuensi”.

Dan semua itu dianggap normal. Padahal, hati kita tahu, itu nggak sehat.

Siroh: Bukan Cuma Sejarah, Tapi Manual Book Sosial

Ketika kita ngomongin siroh Nabawiyah, banyak yang langsung mikir ini cuma pelajaran sejarah Islam. Padahal, siroh selain bercerita tentang apa yang terjadi, juga bercerita tentang gimana Rasulullah bersikap saat hal-hal itu terjadi.

Dan ini penting: siroh itu tidak cukup hanya sampai tahap pemahamama, siroh itu perlu diimplementasikan. Sebab siroh adalah kompas sosial yang relevan banget buat kita yang hidup di zaman penuh distraksi.

Mari coba membayangkan: bagaimana Rasul menghadapi penolakan, pengkhianatan, komentar negatif, dan krisis hubungan sosial?
Ternyata beliau hadapi semuanya dengan akhlak yang tetap lembut, tapi tegas. Bijak, tapi tetap relatable.

Gimana caranya biar bisa begitu? Biar ga panasan, baperan, dan dikit-dikit mengeluh tentang kesehatan mental?

Sekarang, yuk kita bahas 3 nilai krusial dari siroh yang bisa bantu kita membangun interaksi sosial yang sehat & otentik, baik di dunia nyata maupun digital.


1. Empati (Bukan Simpati)

Di medsos, komentar simpati itu gampang banget ditemukan:

“Kasihan ya…”
“Sabar ya…”
“Tetap semangat!”

Dan Rasul ngajarin kita untuk ber-empati, bukan simpati.

Apa bedanya?
– Simpati: Merasa kasihan dari kejauhan.
– Empati: Mampu ngerasain dari posisi orang tersebut, dan bergerak berdasarkan itu.

Contoh dari siroh:
Waktu Rasulullah tahu para sahabat disiksa di Habasyah, beliau sedih. Tidak berhenti sampai pada rasa sedih, Rasulullah berpikir, mengambil tindakan, dan mengirimkan pesan untuk melindungi mereka. Beliau hadir.

Relevansi:
Jadi sebelum kita…
– Ghosting temen yang lagi struggling,
– Nyinyir di kolom komen,
– Ngelempar kritik tajam tanpa kontek.

…coba tanya diri: “Kalau aku di posisi dia, aku pengen diperlakukan gimana?”

Empati adalah rem utama dari perilaku impulsif yang makin lama makin kita normalisasi.


2. Menjaga Lisan (Dan Jari)

Di dunia yang dipenuhi chat, caption, reply, dan thread, jari kita lebih duluan gerak daripada otak dan hati. Dan seringkali, yang keluar malah jadi:

  • Oversharing yang nyenggol orang
  • Komentar sarkas yang menyakitkan
  • Sindiran halus tapi nyebelin

Padahal Rasulullan pernah berkata, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dan beliau membuktikan, beliau benar-benar menjaga lisannya, bahkan terhadap musuh. Bahkan ketika dilempari batu di Thaif, beliau tidak membalas dengan doa keburukan. Lalu… kita?

Bikin IG Story buat nyindir.
Update status yang pasif-agresif.
Komentar “jujur” tapi nyakitin.

Relevansi:
Jempol kita sekarang itu adalah lisan kedua. Kata-kata bisa jadi peluru. Dan di zaman digital, peluru itu terekam selamanya.

Sebelum kita posting sesuatu yang didorong emosi, cobalah untuk:
– Pause dulu.
– Rasa dulu.
– Pikirkan efeknya.

Karena karakter seseorang itu kelihatan dari cara dia merespons, bukan dari seberapa keras dia ngomong.


3. Konsistensi (Ga Pas Lagi Viral Aja)

Kita sering ngeliat orang:

  • Baik cuma pas pengen diterima
  • Peduli cuma pas pengen validasi
  • Ramah cuma pas ada sorotan

Tapi begitu gak ada spotlight? Hilang.

Rasulullah mengajarkan konsistensi > intensitas

Beliau sangat konsisten, bahkan saat nggak dilihat orang, bahkan saat dalam kondisi sulit. Kebaikannya bukan kosmetik. Bukan buat branding. Tapi refleksi dari hati yang utuh.

Contoh kecilnya?

  • Beliau tetap berbagi walau hanya punya satu butir kurma.
  • Tetap lembut meski dihina.
  • Tetap sabar, bahkan saat yang lain udah putus asa.

Relevansi:
Konsistensi membentuk karakter.
Yang sesekali mungkin terlihat keren, tapi yang terus-menerus itulah yang membentuk kita. Jangan cuma jadi baik pas ada yang liat. Jadilah baik karena itu bagian dari kamu.


Mari Ambil Kembali Kendali Interaksi Kita

Kita memang hidup di dunia yang serba cepat dan seringkali gak kasih waktu buat pause. Namun Rasulullah ngajarin kita buat slow down, rasa, dan pikir sebelum bertindak.

Jadi mari coba kita tanya diri, ber-refleksi:

  • Apakah aku sedang interaksi karena ingin benar, atau ingin beneran terhubung?
  • Apakah aku mengomentari orang dengan empati, atau cuma ingin terlihat pintar?
  • Apakah kebaikan yang aku lakukan sekarang akan tetap aku lakukan jika tak ada yang melihat?

Gunakan siroh sebagai panduan. Jangan biarin dunia yang serba instan ini merusak akhlak kita.

Siap mengaplikasikan tiga nilai krusial ini? Nilai mana yang paling menantang buat kamu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *