Membaca kembali buku ini setelah bertahun-tahun lampau, ternyata ‘rasa’nya sudah beda.
Dulu takjub sama sosok Tuti. Mandiri, tau apa yang jadi prioritas hidupnya, bisa mempertahankan diri. Pernah mengangankan kehidupan seperti halnya Tuti.
Sekarang bablas ga ingin. Ngeri.
Perjalanan hidup itu kan ghaib ya. Ga ada satu orangpun yang tahu gimana persisnya jalan kehidupannya kelak. Dan setiap pengalaman akan menumpuk pemahaman, yang pada akhirnya mengakar kuat jadi integritasnya.
Pengalaman membaca ulang bukunya STA ini memungkinkan saya untuk melihat kembali jejak-jejak di masa lalu. Bahwa pernah pada satu masa lampau, insting bertahan membenarkan saya untuk jadi ‘sombong’. Sekarang saya sadar, itu keliru, bukan tindakan yang tepat.
Ternyata untuk bisa tersadarkan, butuh waktu bahkan hingga bertahun-tahun.
Lantas berarti apa yang saya pikirkan saat ini, sangat mungkin juga keliru dong ya?
Bisa jadi. Sangat mungkin sekali.
Karenanya, saya senang sekali kalau ada teman yang bisa dengan berani menegur/mengingatkan secara langsung jika saya melakukan kesalahan.
Masalahnya, yang bikin repot itu kalo negurnya lewat perantara orang lain, yang ketika menyampaikan ulang biasanya ada bagian-bagian yang entah sengaja entah tidak, ter-delesi atau ditambah-tambahkan dengan asumsi pribadi, dll. Sehingga yang disampaikan adalah berita yang tidak sebenarnya.
Memang yaaa.. kalo didetilin, hidup ini pertautannya rumit. Menyadari kerumitan ini, sudah semestinya kita jadi semakin yakin bahwa, Allah sungguh Maha Sempurna, Maha Besar, Maha Kuasa.

Tinggalkan Balasan