MPASI Homemade vs Instan

Ngomongin MPASI, hampir semua ibu yang saya temui punya idealisme yang sama. Berharap bisa ngasi mpasi 4 bintang, atau bahkan 5 bintang. Rumusan dasarnya: semua yang alami selalu lebih baik.

Tapi ketika dihadapkan dengan realitas, entah karena waktu yang terbatas atau menyerah dengan GTM (gerakan tutup mulut) anak, rasanya ingin melupakan konsep MPASI homemade. Siapa sih pencetusnya? Jangan-jangan dia ga pernah nyuapin bayi. Nah loohhh…

Waktu yang terbatas, barangkali ibu memiliki amanah lain atau anak-anak lain yang juga butuh perhatian, bisa saja disiasati dengan membuat MPASI homemade yang sederhana, dan dibantu dengan perangkat masak yang praktis. Tapi saat fase GTM tiba, ini adalah ujian terberat para ibu. Aneka resep dibuat. Bahkan dalam sehari bisa beberapa menu ditawarkan. Sedangkan si anak, makin jadi ahlinya ‘melepeh-lepeh’ makanan.

Gunting dimana ya? Come on MPASI instan!

MPASI instan tentunya beda yaa sama produk instan dewasa. Ada aturan yang wajib diikuti oleh produsen mpasi instan terkait komposisi zat gizi, keamanan proses industri hingga tambahan bahan pangan. Jadi ga perlu khawatir tentang keamanan mpasi instan.

Cuma sayangnya MPASI instan ini meskipun praktis, kurang tepat untuk dijadikan media pengenalan rasa untuk anak. Karena rasanya cenderung beda sama rasa alaminya. Tujuan memberikan mpasi pada enam bulan kedua kehidupan anak adalah mengenalkan ragam rasa. ASI masih menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan pangan anak.

Jadi gimana dong?

Jadi para ibu bisa mempertimbangkan sisi positif dan negatif kedua jenis MPASI ini. Selagi masih mampu untuk bikin MPASI homemade, cuuuss lakukan. Dan ga perlu merasa bersalah juga jika sesekali memberikan MPASI instan.

Ibu berdaya tahu persis apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Termasuk dalam urusan pemenuhan kebutuhan anak. Melalukan sesuatu hal dengan kesadaran penuh, sehingga menyadari setiap kemungkinan resiko yang akan dihadapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *