Rutinitas Pagi: Bacain Buku

Waktu utama saya mbacain anak-anak buku itu pas pagi hari. Kenapa ga malem? Alasan saya sederhana, soalnya kalo malem, suka ketiduran duluan 😂 Aslik ndak kuat melek. Bukan berarti ga pernah yaaa.. kalo pas energinya masih ada mah, malem juga dijabanin.

Pagi ndak rempong tah? Remponglah, belanja ke tukang sayur, ngeladenin sarapan anabul, masakin sarapan anak-anak, nyimak setoran murojaah anak-anak, bahkan motong kuku juga pagi-pagi 😅

Tapi tetep saja, pagi itu waktu yg rasanya kok tepat ya buat mbacain buku ke anak-anak.

Saat ini, udah berbulan-bulan saya mbacain Muhammad Teladan Sepanjang Zaman (MUMTASZ) ke mereka. Alhasil, hampir tiap pagi saya nangis berderai-derai. Mbacain pas awal mah semangat, giliran udah masuk ke tengah/akhir kisah, adaaaaa aja yang bikin rumbai.

Tadi pagi misalnya, saya mbacain halaman 26-27 Jilid 18, Pemberi Semangat yang Bijaksana. Tentang Abdullah bin Rawahah, Penyair Kebanggaan Rasulullah.

Cinta Abdullah bin Rawahah pada Rasulullah, diabadikan dalam syair yang indah bunyinya. Tak hanya indah, tapi juga membawa sebuah keyakinan atas Rasulullah sebagai utusan Allah. Rasulullaah menyambut gembira dan ridho kepadanya.

Ketika Allah menurunkan ayat tentang penyair, Rasulullah sedih sekali,

“Para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat.” [QS. Asy-Syu’ara’:224]

Namun kesedihannya segera berlalu ketika turun ayat berikutnya,

“Kecuali (para penyair) yang beriman, beramal saleh, banyak mengingat Allah, dan bangkit membela (kebenaran) setelah terzalimi. Orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui ke mana mereka akan kembali.” [QS. Asy-Syu’ara’:227]

Abdullah bin Rawahah bukan sembarang penyair. Dia ikut dalam Perang Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiyah dan Khaibar (ketika membaca bagian ini saya mulai rumbai, membayangkan betapa berlimpah-limpah bekal berpulangnya, bayangkan, lima medan peperangan). Eh enam ding, Abdullah juga ikut serta dalam Perang Mu’tah, bersama Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib.

“Tibalah waktunya yang kau idamkan, gugur sebagai ksatria sejati!” teriaknya. Ia gugur di Perang Mu’tah 😭😭😭😭

MUMTASZ menuturkan kisah dengan bahasa yang mudah dipahami. Membuat saya selagi mbacain anak-anak, sekaligus membayangkan kondisi pada waktu itu, suasana perang dan para sahabat yang pemberani.

Saya katakan pada anak-anak, dalam perang, kita ndak dikasih waktu buat mikir yang leluasa. Segalanya berjalan dengan sangat cepat. Pilihannya adalah melawan, bertahan atau gugur. Bergeraknya perlu satsetsatset. Dan bergerak cepat ini kalau tanpa pembiasaan, tentu saja akan sulit dilakukan.

Lalu kami berbincang tentang olahraga sebagai lattihan untuk gerak satsesatset. Berlari, berenang, lompat tali. Dan Eydin nyeletuk, “airmata ibuk udah ilang.”

Saya meringis, tersenyum malu-malu.

Ini ceritaku, mana ceritamu? 😄

— — —

Pengin dapatin tulisan private seputar literasi anak, bisa akses ➡️ https://tinyurl.com/literasianak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *