Bahagia jadi MOMPRENEUR

Kalau diingat-ingat, pengalaman jualan saya itu lumayan banyak dan tinggi jam terbangnya. Ketika SD, pernah jualan kartu bergambar artis yang lagi naik daun ke teman-teman perempuan yang ngefans sama seseartis. Setelah euforia kartu mereda, saya banting stir jualan perangko bekas. Idenya datang gegara pas habis gelantungan di pohon coklat (kebun coklat milik orang yang luas banget, jarang ada penjaganya, jadi tempat main favorit saya), saya melihat di belakang suatu bangunan ada gundukan sampah kertas yang buanyaaakkk. Jiwa kepo saya meronta-ronta, dan ndak berapa lama, saya sudah terjebak dalam tumpukan sampah kertas. Kertas-kertas itu ternyata amplop-amplop bekas yang sudah ndak terpakai lagi, lengkap dengan perangkonya. Zaman itu, tahun 1990an, filateli masih berjaya sebagai saluran komunikasi. Yang bikin saya tertarik, perangkonya itu berasal dari luar negeri. Otak bisnis saya berpendar-pendar.

Memberanikan diri menemui penjaga bangunan (belakangan baru saya tahu kalau itu bangunan belakang gedung pegadaian), meminta ijin untuk mengambil kertas-kertas yang sudah dibuang. Tentu saja Pak Penjaga mengijinkan. Keuntungan buat beliau adalah ndak repot nyapu dan buang. Jadilah saya rutin 2-3 kali sepekan datang kesana untuk beberes sampah kertas. Sesekali saya malah dikasih upah. Heheehhehehh… lumayan, dapat tambahan income. Langkah selanjutnya adalah saya memilah perangko dan simpan dalam album khusus. Lalu mulai melakukan penawaran.

Mama saya ‘nyambi’ berjualan kelontong di rumah. Jadi aktivitas menimbang beras, gula, tepung, kopi dan sejenisnya, itu udah fasih sedari kecil. Pun ngadepin pembeli yang aneka ragam tipenya. Beli sedikit milihnya lama, beli banyak dan satset, beli satu minta bonusan tiga, ndak beli tapi tetep ke rumah buat curhat (looohhhh) dan lainnya.

Tingkat SMP saya mulai mencoba peruntungan lain. Jualan tulisan. Ini masuk kategori jasa kan ya. Saya suka nulis. Beberapa teman suka sama tulisan saya, dan mereka sering minta tolong dibuatkan. Apalagi kalo mereka lagi jatuh cinta. Hahahhahah.. iya ih, saya yang bikin itu rancangan surat cintanya. Usaha ini lumayan bertahan sampai 2 tahunan. Berhenti karena saya patah hati dan merasa jadi orang yang paling merana sedunia. Wkkwkwkkwkkwkkk..

Waktu SMA, eh SMK, saya punya tekad kuat: POKOKNYA AKU GA MAU BERDAGANG, AKU MAU PUNYA KARIR JADI KARYAWAN. Atuhlah kalo inget bagian ini, rasanya geli sendiri. Tekad itu gegaranya saya merasa lelah melayani pelanggan di warung kelontong mama. Pas dapat duitnya sih senang, cuma pas di bagian nyiapin aneka ragam produk sebelum dipajang di etalase itu bikin lelah hayati. Belakangan saya ngerti kalo itu adalah keahlian yang berbeda.

Apakah tekad kuat itu bertahan? Tentu saja tidak. Wkwkkwkwkwkkk. Jadi pas kuliah, berdagang jadi aktivitas yang menggiurkan lagi. Dilanjut pasca menikah, makin merasa antusias dengan aktivitas jual beli.

“… janganlah kalian saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang timbul dari kerelaan di antara kalian…”
(Q.S. An-Nisaa: 29)

Dan makin kesini, finally merasa diri teraktualisasi dengan ragam aktivitas berdagang. Sebab berdagang buat saya, bukanlah semata perkara mendapatkan income. Tapi ada kebaikan didalamnya, ada sarana untuk menolong orang lain, juga hal-hal lainnya. Saya juga tak perlu meninggalkan peran sebagai ibu untuk ini, justru bisa memfasilitasi anak-anak untuk menjadi enterpreneur kelak. Saya bahagia menjadi MOMPRENEUR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *