KELUAR DARI ZONA NYAMAN

Jika diminta keluar dari zona nyaman, biasanya respon orang ada tiga:
1. Ngapain? Udah enak-enak kok malah nyari susah!
2. Ya ya ya… hidup masak begini-begini saja. Saya siap berubah!
3. Mmmmmmm… gimana ya, pengin sih, tapi nanti jadinya ga nyaman lagi dong?

Ndak persis-persis amat seh ya redaksinya. Kurang lebih, ada yg langsung nolak, langsung nerima, dan ga jelas maunya nolak apa nerima. Hehehehhehe..

Yang namanya keluar dari zona nyaman itu ya awal-awalnya memang berasa ndak nyaman. Kenapa? Karena prosesnya mengalami perubahan, dan perubahan itu bukan hal yang menyenangkan untuk dialami. Se-adaptif-adaptifnya orang, ketika mengalami fase perubahan dalam hidupnya, dia butuh waktu untuk bisa menerima bulet bulet.

Kebutuhan orang untuk keluar dari zona nyaman juga bermacam-macam. Salah satunya, bagi ibu BERDAYA, adalah untuk mengejar mimpi-mimpinya, tak jarang ibu perlu merevisi aktivitas harian hingga batas yang bisa ia terima konsekuensinya. Misal, biasanya punya slot waktu masak 2 jam sehari. Demi bisa mulai bangun bonding sama anak-anak dengan ngebacain buku di pagi hari, maka slot waktu masaknya dikurangi jadi 1,5 jam sehari. Perubahan ini tentu saja diikuti dengan konsekuensi pilihan menu masakan. Tadinya demen masak yang rumit-rumit macam ayam panggang gula merah cabe hijau, jadi ayam goreng bukan kalasan. Atau tadinya menu daun ubi tumbuk (yang numbuknya beneran ditumbuk manual), jadi tumis daus ubi. Nyaman? Ndak lah. Di awal-awal, saya yakin, ada nurani yang meronta-ronta, apalagi kalo hobi & healing sang ibu adalah aktivitas per-dapuran.

Itu baru contoh sederhana. Dalam kasus yang lebih ekstrim, misal ada ibu yang ternyata punya slot waktu nonton drakor 3 jam sehari. Demi ingin menjadi ibu yang produktif, ia mencoba keluar dari zona nyamannya, dengan mengurangi hingga jadi 30 menit nonton drakor. Diganti dengan aktivitas lain yang menunjang impiannya, cita-citanya. Hari-hari pertama, pekan-pekan pertama, saya yakin sang ibu ini akan sakaw. Godaan untuk nonton drakor begitu besar, dibanding, misal, bikin konten iklan produk jualannya yang belum tentu ada tanggapan dari pemirsa.

Ya, keluar dari zona nyaman memang bikin ndak nyaman. Tapiiiii… tenang, kalau tahu triknya, ketidaknyamanan ini bisa diantisipasi kok. Salah dua triknya yaitu:
1. Keluar dari zona nyamannya, ndak harus ekstrim. Setahap demi setahap.
2. Pastikan punya alasan kenapa harus keluar dari zona nyaman.

Detilan tentang keluar dari zona nyaman ini akan kita bahas di KELAS IBU BERDAYA.

Info jadwal terdekat dan pendaftaran:
Admin Khaza: 081246931218

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *