Mengolah Rasa Syukur

Tindakan kita dipengaruhi oleh perasaan. Perasaan kita dipengaruhi oleh pikiran. Pikiran hadir setelah melihat dan mendengar sesuatu hal. Maka menjaga apa yang bisa kita lihat dan apa yang kita dengar, bisa menjadi alternatif efektif untuk menjaga diri.

Tentu saja, ada beberapa hal yang kita tidak bisa kendalikan. Banyak peristiwa yang melewati sapuan pandang kita. Apalagi dunia nir kabel meleburkan satuan waktu dan jarak. Berita-berita yang menyentuh rasa kepedulian kita.

Bercampur aduk aneka rasa yang memenuhi ruang hati, bisa kita masukkan dalam lemari-lemari kecil di tiap sudut hati. Maknai setiap rasa yang ada, lalu carilah kesyukuran di dalamnya.

Ketika bahagia karena si kecil sudah mulai bisa berjalan, hadirkan dan perbesar rasa syukur dengan mengenang kembali, betapa gigihnya ia menapakkan kaki mungilnya satu per satu, perlahan-lahan menyeimbangkan bobot tubuh. Berulang kali ia terjatuh dan tergoda untuk merangkak, namun berulang kali pula, ia bangkit dan mencoba melangkah. Ia adalah pejuang tangguh.

Ketika bahagia karena mendapatkan rejeki yang halal yang mampu mencukupi kebutuhan keluarga selama satu bulan, hadirkan dan perbesar rasa syukur, dengan mengingat, betapa Allah Maha Baik, masih memberikan kesempatan untuk berjuang menjadi hamba-Nya dengan berikhtiar memiliki pekerjaan halal. Barangkali ada banyak godaan untuk korup, nilep atau hal-hal buruk lainnya. Namun dengan kerendahan hatian kita memohon penjagaan-Nya, alhamdulillaah, Allah menjaga kita.

Pun ketika sedih melanda, bersebab pasangan yang abai dengan tanggungjawabnya. Tetap hadirkan dan perbesar rasa syukur dengan mengingat bahwa Allah memberi kesempatan untuk kita bisa BERDAYA, tanpa menggantungkan diri pada manusia. Barangkali ini adalah cara Allah agar seseorang yakin bahwa hanya pertolongan-Nya yang bisa membantu.

Atau duka ketika ditinggal ayah bunda terkasih. Rasa syukur yang hadir, insyaAllah bisa mengobati kekosongan yang bersemanyam setiap ruang hati. Bisa jadi Allah sedang mengingatkan kita, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya.

Setiap peristiwa adalah kenyataan yang perlu dihadapi. Mengedepankan rasa syukur atas segala peristiwa yang terjadi, akan menstimulus pikiran husnudzon kita. Jika dilakukan berulang, kita jadi terbiasa untuk berprasangka baik. Terbiasa untuk memberi udzur pada ketidaksanggupan seseorang. Dan pada akhirnya mengarahkan kita untuk melakukan tindakan yang proaktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *