Bukan Luka Pengasuhan

Dengan penuh keyakinan, kita menamainya luka pengasuhan, atas segala duka yang didapat di masa kanak-kanak, yang belum ter-regulasi. Luka itu menjadi pembenaran atas sikap yang kita ambil saat ini.

Kita menyalahkan sosok yang paling berjasa dalam menghadirkan diri kita ke dunia. Beragam kata seharusnya berulang hadir dalam setiap kata yang kita lisankan. Kerapkali dengan cara yang menyakiti hati mereka. Atas nama luka pengasuhan, kita membenarkan tindakan menjauh untuk kewarasan.

Mari, kembali saja pada petunjuk-Nya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
(QS: Al Isra ayat 23-24)

Mengimani qodho dan qodar merupakan salah satu bukti keimanan kita pada Allah. Termasuk di dalamnya adalah menerima segala hal yang SUDAH terjadi sebagai takdir. Kemarin, adalah situasi dan kondisi yang sudah tidak bisa kita ubah.

Yang bisa kita ubah, adalah apa yang akan kita lakukan hari ini. Selagi masih ada kesempatan, mari, berdamai dengan luka-luka itu. Dan berbuat baik pada ibu dan bapak. Tak ada alasan untuk berkata, “ah…” Biarkan mereka mempertanggungjawabkan segala perbuatan di hadapan-Nya kelak. Sama halnya kita, akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *