Ketika Kamu Berbeda

Bukan hal yang mudah ketika mendapati diri menempati peran antagonis. Butuh pengendalian diri yang kuat untuk menepis tudingan yang belum tentu benar.

Oh ini bukan sedang bicara tentang menjadi artis antagonis. Tapi ada masa ketika ternyata kita berbeda haluan. Aku dengan pikiranku. Kamu dengan pikiranmu.

Ketika persepsi yang mengaitkan kita tak sama, pada saat itulah genderang perang dibunyikan.
Kenapa kamu begitu? Kan mestinya begini.
Lho, apa kamu ga bisa lihat apa permasalahannya? Akan riskan jika kamu seperti ini.

Demikian terus bersahut-sahutan, saling bertarung, mempertahankan isi pikiran masing-masing, tak peduli pada sudut pandang lawan bicara.

Maka, lupakanlah kebenaran milikmu. Hentikanlah saja prasangka. Sekalipun kamu tenar, banyak dipuja masa dan diikuti netizen, sungguh percuma adanya jika hanya menorehkan luka.

Bukan kita yang berbeda. Tapi kamu yang berbeda. Tak mengapa berbeda, sebab kesamaan bukanlah keniscayaan. Sengketa itu tak perlu ada. Cukup hadapi dengan sujud-sujud panjangmu, berbisik sepenuh harap pada Sang Pencipta, “Allaah, inilah hamba yang Engkau mau.”

Terkadang… Kita hanya perlu diam, untuk meredakan degup jantung yang bertalu-talu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *