Jujur sebagai Karakter Utama

“Sesungguhnya jujur akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa kepada surga.“ (HR Bukhari)

Kita saat ini adalah pengalaman-pengalaman di masa lalu. Jika kejujuran kita tengarai sebagai karakter paling utama diantara karakter-karakter utama lainnya, mari coba tilik pada kedalaman diri untuk mengukur kadar kejujuran kita.

Termasuk givers kah kita? Atau takers?

Ada rekan kerja yang butuh di back up kerjaannya karena sesuatu hal yang tidak bisa ditinggalkan. Kitakah yang mengambil tanggungjawab itu atau diam-diam kita menjauh dari arena agar tidak dipilih untuk menggantikan?

Ada orang yang meminjam lalu tidak bertanggungjawab. Suatu ketika orang lainnya datang dan mengajukan pinjaman. Kita berikah? Atau kita tolak karena pengalaman sebelumnya dengan orang yang berbeda?

Anak-anak bertanya tentang satu hal yang kita tidak tahu jawabannya. Semudah apa lisan kita menjawabnya? Jujur mengakui ketidaktahuan kita atau memberi jawaban mengada-ada yang kita ga tau kebenarannya?

Pasangan minta dibelikan masakan Padang. Berhubung males beli, apa respon kita? “Mas, makan yang kumasakin yaa,” atau “Mas warungnya tutup.”

Situasi dalam keseharian, bisa memicu kita untuk berniat, berlisan dan berlaku jujur, sekaligus sebaliknya. Pertanyaannya, karakter mana yang menguatkan pengalaman kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *