INNER CHILD

Semakin kesini, ilmu semakin mudah diakses. Yang tadinya terasa jauh dan ga familiar, jadi terdengar ramah di lisan. INNER CHILD merupakan salah satunya.

Inner child adalah hasil dari sekumpulan peristiwa masa kecil yang membentuk kepribadian seseorang seperti sekarang. Bisa baik maupun buruk.

Ketika ditengarai inner child seseorang terluka, yang dituding sebagai penyebab adalah orang-orang terdekat. Entah itu sang ayah, atau sang ibu. Atau sosok pengganti orangtua.

Dalam perjalanan untuk mengenali penyebab ini, kerapkali menghadirkan emosi negatif. Birrul walidain menjadi tak mudah. Ada tembok yang membentengi kelembutan hati, konon katanya demi melindungi hati itu sendiri.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (QS. An Nisa: 36)

Sedang dalam kalam-Nya telah termaktub perintah untuk berbuat baik pada kedua orang tua. Dan diperjelas pada hadist-hadist yang berkisah tentang bakti pada orang tua.

Ya ya ya.. bisa jadi, benar adanya, inner child kita terluka karena ‘pengasuhan yang tak tepat’. Tak bisa kita pungkiri, ada beragam kisah mendokumentasikan betapa tak wajarnya perlakuan orang tua pada anak-anaknya. Namun di satu sisi, kita juga mesti yakin sama pertolongan-Nya, sama qodho dan qodar-Nya. Dan bahwa setiap orang akan mempertanggungjawabkan segala hal yang telah ia niatkan, ia lisankan dan ia lakukan.

Maka, dengan mengacu pada perintah-Nya untuk birrul walidain, mari, jangan biarkan inner child yang terluka membuat kita enggan untuk berbuat baik pada orang tua. Tinggalkan saja istilah-istilah yang keren dan kekinian itu, jika hanya akan membawa kita menjauh dari perintah-Nya.

Cari saja pembelajaran terbaik dari segala yang pernah kita alami.
Misal:
– Aku dulu sering dibentak-bentak disuruh diam. Sekarang ku tahu, ternyata Allaah ingin aku belajar mendengarkan orang lain.
– Dulu aku disuruh les terus-terusan, hampir sepanjang hari. Sekarang ku mengerti, apa arti kedisiplinan dalam hidup ini.

Sebab tak ada daun jatuh tanpa seijin-Nya. Tugas kitalah untuk bisa memaknai segala peristiwa dengan ketaatan kepada-Nya

#selarik pikir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *