Takwa

Di suatu tempat, di belahan dunia yang bisa jadi kita tak pernah tahu, ada sesosok perempuan yang begitu mendamba tangan-tangan mungil menarik-narik rambut lebatnya. Memimpikan celoteh suara bening dengan berbagai tingkat volume, yang berkata, “Bun, lihat aku bun, lihat aku. Bun, kenapa matahari itu panas sekali? Bun, aku mau es krim!”

Pada bayangannya, betapa damai dan nyaman ketika memeluk tulang-tulang kecil itu. Mereka mungkin tampak rapuh hingga perlu penjagaan. Namun uniknya, merekalah yang justru menguatkan si penjaga.

Bersama mereka, kecemasan akan keriput pada wajah menjadi latar belakang yang makin lama makin tersamar. Menua hanyalah sebuah kepastian, sedangkan memiliki arti bagi mereka adalah sebuah perjuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *