Menutup Aib

Ku yakin, tidak mudah buat kita, para perempuan untuk menutup aib yang terjadi dalam rumah tangga. Godaan berkeluh datang begitu hati merasakan luka yang menganga masih juga ditabur garam. Tergambar entengnya beban ketika berbagi isi hati yang resah dan gelisah. Bukankah nasehat yang kerap kita dapat adalah berbagilah rasa ketika beban mulai menghimpit, cerita saja nanti akan lega sesudahnya.

Tapi sungguhkah demikian? Sungguhkah kita lega setelah curcol kesana dan kemari?
“Ah, engga kesana kemari kok, ku cuma posting status doang.”
Lantas statusnya jadi ramai. Yang sekufu mengiyakan dengan kekuatan optimal. Yang ga sekufu, berbantah tanpa tedeng aling-aling.
Apa kabar hati? Legakah? Atau malah makin rungsing, makin ruwet? Coba… coba tilik lagi di kedalaman hati.

Ya, menutup aib memang tidak mudah. Apalagi jika yang terjadi adalah KDRT. Ada satu titik dimana kita memang wajib membuka kasus KDRT, yaitu ketika nyawa diri sendiri dan anak-anak terancam. Tapi ketika yang terjadi adalah kekerasan verbal, atau ketidak-cukupan nafkah, atau ketidak-berdayaan pasangan, atau kelemahan pasangan, sungguh, perlu jalan kebijaksanaan buat kita, sebagai perempuan, untuk memilih kemana meminta pertolongan.

Ada jalur-jalur yang aman untuk bercerita dan bisa memberikan alternatif jalan keluar atau penanganan. Yayasan yang peduli pada perempuan, psikolog, psikiater, konseling, murabbi yang kita percayai, orangtua pasangan. Jalur yang memungkinkan kita untuk memilih tindakan yang benar, meski mungkin bukan tindakan yang kita inginkan.

Menutup aib memang tidak mudah, tapi kita bisa melakukannya dengan memilah apa yang bisa di-share pada status medsos serta menahan diri dari memberikan komentar yang tidak pada tempatnya pada kasus-kasus yang membuka aib seseorang. Sejatinya dalam rumah tangga, hanya pasangan tersebutlah yang tahu persis apa yang terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *