Tangan di Atas itu Nikmat

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS: Al-Baqarah Ayat 274)

Alkisah seorang pemilik usaha batik yang terkemuka di Yogyakarta, terkenal akan kedermawanannya. Ringan saja baginya mengeluarkan isi kantong. Mudah saja baginya mengorek-ngorek persediaan. Tampak tanpa beban, ia mengulurkan bantuan, bagi sesiapapun.

Barangkali inilah sosok yang kita tahu, dunia ada di genggamannya dan akhirat ada di hatinya. Lantas seorang dua orang yang ingin mengikuti jejaknya bertanya, “Bagaimana caranya bisa bersedekah dengan tanpa banyak pikiran yang menahan, pikiran akan sayang harta, pikiran akan cinta kekayaan? Bagaimana caranya bisa bersedekah dengan ringan?”

Ditanya demikian, ia lantas tertawa, lalu menjawab, “Salah alamat. Kalian datang pada orang yang salah. Saya ini sangat mencintai harta saya. Saya sangat mencintai kekayaan saya.”

“Hah?”

“Iya. Sebab begitu besarnya cinta saya pada harta, saya sampai tidak rela meninggalkannya di dunia. Saya tidak mau berpisah sama harta saya. Jadi sementara ini saya titipkan dulu harta saya. Titip ke Masjid, titip ke anak yatim, titip ke pondok pesantren, titip ke pejuang fi sabilillah, titip ke mereka yang sedang butuh. Syukurlah ada yang berkenan untuk menerima titipan. Saya senang. Pokoknya besok di akhirat, saya mau nagih-nagih. Inginnya kekayaan saya itu bisa dinikmati di akhirat.”

Membaca dan atau mendengar kisah di atas, rasanya malu kalau melihat ke kedalaman diri. Baru saja muncul niatan untuk bersedekah, sudah timbul rasa bimbang, kemana akan bersedekah? Belah memilih, disana atau disini, terasa butuh waktu yang tidak sebentar. Setelah memutuskan kemana akan bersedekah, lagi-lagi muncul kebimbangan, lembaran mana yang akan disedekahkan? Berapa yang akan disedekahkan? Belah menimbang, menghitung-hitung kadar kerelaan. Belum berhenti sampai disana, muncul lagi godaan pikiran, perlu ditunjukin tidak ya, barangkali tindakan sedekah ini bisa menginspirasi banyak orang? Astaghfirullah Al Adzim. Betapa kita ini hamba-Nya yang lemah.

Padahal jika saja kita mencermati petunjuk Allah dalam kalam-Nya, salah satunya adalah surah Al-Baqoroh ayat 274, niscaya kita akan merasakan bahagia ketika bersedekah. Tidak ada lagi keragu-raguan dalam bersedekah. Bahkan bisa jadi, kita malah jadi ketagihan untuk bersedekah.

Allah menjanjikan pada kita, jika kita bersedekah, baik itu malam maupun siang, baik itu secara terang-terangan maupun bersembunyi, semuanya mendapatkan pahala di sisi-Nya. Tidak hanya itu saja, Allah juga menjamin bahwa tidak akan kekhawatiran atas apa yang akan dihadapi di akhirat kelak. Juga akan dijauhkan dari kesedihan hati atas kehidupan di dunia.

Orang-orang yang terbiasa dengan tangan di atas, mengetahui bahwa bersedekah secara sembunyi-sembunyi adalah lebih utama. Menjaga niat si pemberi. Juga menjaga kehormatan bagi penerima. Namun bukan berarti kita bisa memilih untuk menolak bersedekah secara terang-terangan padahal kondisi sangat mampu hanya karena alasan kerahasiaan amal.

Bersedekah sejatinya adalah bukti dari jujurnya iman kita, yang makin menyucikan hati. Sebagai ikhtiarnya, kita perlu untuk peka pada keadaan saudara-saudara kita, yang bisa jadi tampak berkecukupan tapi pada kenyataannya mereka sangat membutuhkan titipan harta kita.

Akan selalu ada kebimbangan yang dibisikkan syaiton ketika kita berniat melakukan kebaikan. Inilah peperangan kita yang sesungguhnya. Tangan di atas, insyaAllah akan menjadi keberkahan jika hati kita mampu melewati badai kebimbangan itu.

Photo: https://jatman.or.id/bila-kau-memilih-tangan-di-atas-biar-aku-memilih-tangan-di-bawah/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *