Suka Baca Buku = Kutu Buku?

Ini pertanyaan yang cukup sering mampir di japrian. Rupanya ada kegelisahan yang meruyak para orangtua jika (anggap saja) sudah berhasil menstimulus anak-anak untuk suka baca buku. Kegelisahan bersebab persepsi bahwa kutu buku adalah status yang -bukan- idaman.

Dalam KBBI, kutu buku dijelaskan sebagai orang yang senang membaca serta menelaah buku kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Oke, kita tahu apa definisi kutu buku, tapi, apa persisnya yang ada di benak kita saat mendengar (atau membaca) frasa KUTU BUKU?
Orang dengan lensa kacamata yang tebal? Sasaran bullying? Kurus kerempeng? Ga atletis? Rasa-rasanya sulit membayangkan kutu buku sekaligus atlet. Apa lagi yang ada di benak kita?

Apapun persepsi kita, itulah yang mempengaruhi minat literasi anak-anak. Jika persepsi kita positif, maka tidak ada keyakinan yang menghambat terkait literasi. Sebaliknya jika persepsi kita negatif, kita akan menemukan banyak hambatan, istilah kerennya limiting belief atau biasa kita sebut dengan mental block, ketika hendak menstimulus anak-anak untuk suka baca buku.

Hambatan itu bisa muncul berupa:
– ah, harganya mahal banget, bisa buat beli beras sebulan
– sekarang jamannya teknologi kok, bisa cari ilmu lewat youtube, ga pake buku juga ga kenapa
– yang penting anak-anak bisa baca dulu, masalah suka belakangan
– anak saya memang ga senang baca buku, daripada bukunya ga dibaca mending ga dibelikan sekalian
– dll

Hambatan yang terasa masuk akal dan terlihat memang berasal dari luar kendali diri. Padahal sesungguhnya, hambatan itu muncul karena dari dalam dirinya ada konflik intensi. Pengin anak-anak suka baca buku, tapi sekaligus ga mau kalau anak-anak baca buku banyak-banyak.

Adalah Al Hakam II, Khalifah Andalusia dipastikan membaca semua koleksi Cordova Library yang memiliki 400.000 judul katalog. Kebayang yaa.. pemimpin negeri ngebaca semua buku itu. Anggaplah satu judul ada 5-10 jilid, berapa buku yang beliau baca? Apakah beliau menghabiskan masa kepemimpinannya dengan hanya membaca buku? Sejarah mencatat keberhasilan beliau menghalau tantangan dari Daulah Fathimiyah yang ingin merebut wilayah Afrika Barat. Setelah terjadi pertempuran selama empat tahun, di bawah pimpinan Panglima Ghalib, daerah itu bisa direbut kembali. Nah loh…

Kisah di atas adalah bukti bahwa membaca buku, tidak menghalangi seseorang untuk melakukan perannya. Sebaliknya, malah bisa menjadi support utama seseorang untuk bertumbuh. Logikanya, semakin banyak membaca buku, semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin banyak pula referensi untuk menghadapi apapun dalam kehidupannya.

Maka pertanyaan apakah suka baca buku akan menjadikan seseorang sebagai kutu buku, bukanlah pertanyaan yang perlu dihadirkan. Pertanyaan itu perlu diganti dengan buku apa yang bisa menjadi referensi untuk pertumbuhan anak-anak dalam menghadapi kehidupannya?

Nah, ngomongin buku apa, tetap yaa.. rekomendasi saya adalah buku siroh. Sebab dalam kisah siroh terdapat kisah-kisah keteladanan yang insyaAllah akan mengantarkan anak-anak pada akhlak karimah. Akhlak yang menjadi dasar dari tumbuh kembang anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *