Mendahulukan Orang Lain

Itsar adalah mendahulukan orang lain dari pada dirinya sendiri (al Usaimin, 2002). Seseorang disebut telah berpribadi itsar dalam kehidupan sehari-hari apabila telah mampu memandang kebutuhan dan kepentingan orang lain lebih penting dari pada kepentingan pribadinya sendiri (Al Usaimin, 2002)

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9).

“Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).

Kita makhluk sosial kan yaa.. yang butuh untuk berinteraksi dengan sesama. Lebih dari sekadar interaksi, kita membutuhkan lingkungan yang mendukung sifat-sifat kebaikan yang kita miliki. Bukan sebaliknya.

Namanya juga interaksi, butuh keterlibatan minimal dua pihak yang berkepentingan. Menjaga hubungan inilah yang familiar kita sebut dengan ukhuwah, persaudaraan. Teman rasa saudara, tetangga rasa saudara.

5 tingkatan ukhuwah:
1. Ta’aruf (Saling Mengenal)
2. Tafahum (Saling Memahami)
3. Ta’awun (Saling Menolong)
4. Takaful (Saling Menanggung)
5. Itsar (Mendahulukan Orang Lain)

Jadi itsar ini tingkatan tertinggi dalam bingkai ukhuwah. Kebayanglah yaaa.. gimana tidak mudahnya memiliki nilai-nilai itsar.

Ketika kita lagi kesempitan, lalu ada saudara yang sedang terhimpit meminta pertolongan. Apa yang kita lakukan? Memberi milik kita yang terbatas, atau sebaliknya?

Ketika kita memiliki sebuah tas kesayangan yang sudah lama kita idamkan, lalu ada teman yang meminta tas itu dengan sepenuh harap. Apa yang kita lakukan? Memberi atau mengabaikannya?

Ketika dompet berisi beragam pecahan rupiah dan di perjalanan kita menemukan ada (maaf) peminta-minta. Mana yang akan kita berikan? Pecahan tertinggi atau yang terendah?

Dan itsar tidak cukup sampai disana. Masih ada bagian ‘tak terlihat’ yang masuk dalam pengertiannya. Yaitu bagamana usaha kita dalam menyembunyikan peranan kita dalam membantu. Kalau dianalogikan, seperti tangan kanan yang memberi dengan diam-diam, sehingga tangan kiri engga tahu kebaikan tangan kanan.

Ternyata ketika kita memiliki itsar, pararel kita juga jadi rendah hati. Karena kita sadar sepenuhnya, bahwa segala hal yang terjadi, adalah karena Allah yang mengijinkan. Termasuk permberian kita, tidak akan terjadi, jika Allah tidak mengijinkan. Rendah hati menjauhkan kita dari kesombongan yang menenggelamkan. Rendah hati membuat kita makin merasa perlu untuk terus memperbaiki diri.

Berada di tingkat akhir pada bingkai ukhuwah, berarti itsar ini tingkat kesulitannya paling tinggi. Sudah ada di tingkat mana kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *