Ayat Terakhir

mecca

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS: Al-Ma’idah ayat 3)

Sepenggal ayat yang terakhir turun, yang mana sejak itu, usai sudah perjalanan penerimaan wahyu yang diterima Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam. Abu Bakar ash Shiddiq, sahabat terdekat Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam, merasakan kesedihan yang mendalam. Ia pulang, mengunci rumah rapat-rapat dan menangis sejadi-jadinya. Tidak mampu menahan diri. Abu Bakar ash Shiddiq menyadari ayat terakhir itu menyiratkan kepergian Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam yang tidak lama lagi.

Mari kita bayangkan, seseorang yang sangat kita sayangi, orang yang paling dekat dengan kita, tetiba divonis waktu yang dimiliki hanya sekian bulan, atau malah sekian hari. Hati terasa sesak, merasakan duka bahkan sebelum waktunya tiba. Ingatan menampilkan ulang rekaman peristiwa indah yang pernah terjadi. Kenangan-kenangan manis yang enggan untuk dihempaskan. Lantas kesadaran menghentak diantara kenangan-kenangan itu, bahwa tidak akan terulang lagi. Pedih, sedih, merasakan lara yang terasa tidak akan pernah berakhir.

Berita Abu Bakar ash Shiddiq menangis, sampai ke telinga para sahabat lainnya. Berbondong-bondong mereka mendatangi rumah Abu Bakar ash Shiddiq.

Mereka bertanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang membuat kamu menangis hingga seperti ini? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempurna.”

Abu Bakar ash Shiddiq pun menjawab, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahwa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda.”

Mendengar penjelasan itu, maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ash Shiddiq, lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya, mengikuti jejak Abu Bakar ash Shiddiq.

Sungguh dalam pemikiran Abu Bakar ash Shiddiq. Beliau memiliki empati yang sangat kuat, yang membuatnya cepat membaca situasi yang tersirat. Kemampuan yang sangat diperlukan dalam kepemimpinan.

Saat ini, kita hidup di masa teknologi sedang bermutasi dengan cepatnya. Salah satu efeknya adalah masuknya arus informasi dengan deras. Semua informasi itu menyerbu panca indera kita, merebut banyak perhatian kita. Kita diberi fakta demi fakta secara beruntun. Jika kita tidak mampu memilah informasi mana yang kita perlukan, kita akan kehilangan kesempatan untuk menganalisa informasi yang tersirat. Yang pada akhirnya akan membawa kita pada kemunduran berpikir. Kita menjadi malas untuk mengasah kemampuan berpikir.

Setelah turunnya ayat ketiga surah Al-Maidah itu, perjalanan umat muslim dimulai dengan petunjuk dalam lembaran-lembaran Al-Quran. Pena telah kering. Lembaran buku telah ditutup. Ayat ini menyampaikan bahwa perjanjian antara Allah dengan manusia telah mencapai tujuan yang mulia.

Mari terus mengedepankan syukur, jika pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk menyimak, membaca dan memahami Al-Quran. Sebab bisa jadi kita termasuk dalam golongan orang-orang yang diberi petunjuk-Nya. Pun ketika kita tergerak untuk turut aktif menyebarkan dakwah agama ini melalui apapun peran yang kita miliki, mari terus senantiasa menambahkan rasa syukur. Sebab bisa jadi kita adalah orang-orang yang telah dipilih oleh-Nya untuk menjadi hamba-Nya yang terbaik. Bisa jadi kita adalah sekeping puzzle yang turut dalam skenario Allah dalam memelihara Al-Quran.

Ya, mari terus melantunkan rasa syukur, jika saat ini kita masih diberi iman Islam. Sebab sejatinya Islam adalah representasi dari kalam Ilahi. Semua petunjuk dalam ranah kehidupan ada dalam Islam. Petunjuk itu mampu mengantarkan kita untuk kesuksesan tidak hanya dunia saja, atau akhirat saja, tapi dunia dan akhirat. Yang diperlukan untuk menyerap semua itu adalah kemampuan berpikir. Ya, kita diminta untuk selalu memikirkan pesan-pesan cinta-Nya yang hadir dalam keseharian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *